>
Headlines News :

Berita Pilihan

Berita Terkini

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Bisnis. Tampilkan semua postingan

Sulteng Terima DBH Migas Rp62 Miliar

Written By Unknown on Sabtu, 26 November 2016 | 08.17.00

Donggi Senoro (Ilustrasi)


Palu, Jurnalsulteng.com - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk tahun 2017, mendapatkan dana bagi hasil (DBH) sumber daya pertambangan minyak bumi dan gas bumi sebesar Rp62,12 miliar.

Angka tersebut terbagi dari minyak bumi sebesar Rp11,20 miliar dan gas bumi Rp50,91 miliar sehingga total Rp62,12 miliar. Sementara untuk daerah penghasil yakni Kabupaten Banggai DBH yang diberikan dari minyak bumi Rp22,41 miliar dan gas bumi Rp101,83 miliar dengan total Rp124,24 miliar, kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulteng, Bambang Sunaryo di Palu, Jumat (25/11/2016).

Ia mengatakan khusus untuk DBH Pemprov Sulteng masuk dalam batang tubuh anggaran dan pendapatan belanja daerah (APBD) tahun 2017 dari sektor pendapatan.

"Kami optimistis target tersebut dapat tercapai, khususnya sektor gas bumi, karena harga dan produksi saat ini masih dalam kondisi stabil," ungkapnya.

Ia menjelaskan, dana tersebut akan direaalisasikan setiap triwulan dan akan dilakukan hitung-hitungan kembali pada akhir tahun. Apakah lebih atau kurang yang diberikan oleh pemerintah pusat.

Untuk minyak, kata Bambang diharapkan angka Rp11 miliar itu dapat terealisasi, karena harga minyak dunia saat ini masih dalam kondisi tidak stabil.

Walaupun, kata dia produksi minyak dapat tercapai, kalau harga tidak stabil akan mempengaruhi juga.

Selain daerah penghasil dan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Sulteng, turut merasakan ada bagi hasil dari sektor minyak dan gas dengan alokasi sebesar Rp10,35 miliar.[***]

Source; Antara

Sulteng Undang Investor Bangun Industri Cokelat

Written By Unknown on Kamis, 24 November 2016 | 17.02.00

Menteri Perindustrian Saleh Husin didampingi Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola melihat mesin pengolah coklat bantuan Ditjen Industri Agro di Rumah Coklat, Palu. (Kemenprin.go.id)

Palu, Jurnalsulteng.com - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengundang investor dari dalam maupun luar negeri untuk membangun industri cokelat di daerah itu.

"Kita ini daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng Abubakar Amahdali di Palu, Kamis (24/11/2016).

Ia menjamin para pengusaha yang masuk Sulteng, tidak akan pernah mengalami kekurangan bahan baku sebab seluruh kabupaten di provinsi ini memiliki areal tanaman kakao yang cukup luas.

Hanya saja, kata dia, selama ini belum ada satupun pengusaha dalam maupun luar negeri yang menanamkan investasinya di industri hilir di Sulteng, khususnya pengolahan biji kakao menjadi bahan makanan atau makanan jadi berupa cokelat.

Akibatnya, biji kakao Sulteng mengalir ke daerah lain seperti Makassar dan Surabaya, dalam bentuk gelondongan.

Karena itu, Pemprov Sulteng mengajak investor yang serius untuk menamamkan modalnya di daerah ini, karena kehadiran investor akan meningkatkan nilai tambah bagi derah dan masyarakat.

"Kalau ada investor yang mau melakukan investasi khususnya membangun pabrik cokelat di Sulteng, pemprov akan mendukungnya dengan menyediakan kemudahan mendapatkan izin dan juga lahan untuk pembuatan pabrik dimaksud," ujarnya.

Sulteng selama dua tahun ini sudah memiliki satu unit rumah cokelat dan puluhan pelaku usaha industri kecil menengah (IKM) cokelat.

"Yang kita butuhkan sekarang ini ada industri cokelat berskala besar hadir di Provinsi Sulteng," kata Abubakar.

Menurut dia, jika Sulteng punya satu saja pabrik cokelat besar, niscaya ekonimi masyarakat akan meningkat lebih bagus dan juga pertumbuhan ekonomi daerah ini anak semakin berkembang pesat.

Sehingga visi Pemprov Sulteng di bawah kepemimpinan Gubernur Longki Djanggola yakni menjadi daerah yang maju, mandiri dan berdaya saing lewat pengembangan agroindustri akan lekas terwujud. [***]

Source; Antara

BRI Poso Rugi Miliaran Rupiah Akibat Swissindo

Written By Unknown on Selasa, 22 November 2016 | 09.59.00


Palu, Jurnalsulteng.com - Bank Rakyat Indonesia (BRI) kantor cabang Poso mengalami kerugian miliaran rupiah akibat ulah lembaga yang mengaku dapat membayar hutang nasabah yang mengambil kredit di bank itu.

"Kerugian mencapai Rp3,5 miliar dari dua lembaga yang mengaku dapat membayar hutang debitur," kata pejabat bagian kredit BRI Poso, Aswani yang dilansir Antara.

Dia merincikan dua lembaga itu yakni UN Swissindo dengan tiga debitur sebesar Rp1,2 miliar dan Koperasi Pandawa dengan sekitar 20 debitur sebesar Rp2 miliar lebih.

Aswani menjelaskan sebagian nasabah yang terpengaruh itu merupakan nasabah lama yang sudah melakukan pinjaman beberapa kali sebelumnya. Sementara ada juga nasabah yang baru pertama kali mengambil pinjaman di BRI.

Nasabah itu, kata dia, berada di Kabupaten Tojo Unauna dan Morowali yang merupakan wilayah kerja dari BRI Poso.

"Ini masuk dalam kasus yang besar, pengalaman pertama sejak adanya BRI Poso," ungkapnya.

Bagi Aswani, jika dibandingkan dengan bank lain, nasabah yang terpengaruh adalah mereka yang tidak mengalami masalah dengan usaha mereka, karena terdoktrin untuk sengaja tidak mau membayar.

Bahkan, kata dia, ada agunan nasabah yang sudah ditarik dan laku lelang, masih dihalang-halangi penyitaanya oleh lembaga itu, dengan cara menempelkan logo garuda dari lembaga mereka.

Untuk mengantisipasi kasus yang serupa, pihaknya terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait keberadaan kedua lembaga itu yang telah dinyatakan oleh otoritas jasa keuangan sebagai lembaga yang melanggar hukum.

"Kami juga memperlihatkan surat edaran OJK kepada mereka, namun tetap juga mereka tidak percaya karena sudah terlanjur terpengaruh," ujarnya.

BRI Poso masih menunggu petunjuk pimpinan di tingkat lebih tinggi mengenai langkah selanjutnya menangani kasus ini.

"Jika nantinya ada upaya hukum, maka pihak bank akan melakukan itu," tutup Aswani.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah M Syukri A Yunus di Palu, Senin (21/11/2016) menegaskan, bahwa praktik dan modus yang dilakukan oleh United Nation (UN) Swissindo adalah ilegal dan melanggar hukum.

Syukri mengatakan beberapa waktu terakhir di Sulteng, masyarakat cukup diresahkan dengan adanya pihak-pihak tertentu yang mengklaim secara sepihak, sebagai lembaga yang dapat melunasi hutang debitur di bank, lembaga pembiayaan dan lembaga keuangan lainnya.

"Bahkan pada tanggal 18 September 2016, di salah satu hotel di Kota Palu, pihak tersebut mengadakan sosialisasi kepada calon korban dimana OJK dan Polda melakukan pengawasan atas aktivitas itu," ungkap Syukri.

Hal senada juga disampaikan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi, Tongam Lumbang Tobing menyatakan bahwa setiap kegiatan yang mengatakan UN Swissindo sudah dinyatakan melanggar hukum dan ilegal.

Tobing menjelaskan bahwa kegiatan lembaga itu sangat tidak masuk akal dan tidak memiliki badan hukum. Bagaimana mungkin masyarakat bisa percaya, ketika datang satu lembaga yang menawarkan jasa bagi debitur, untuk tidak membayarkan hutang ke bank atau industri jasa keuangan lainnya.

"Di beberapa daerah dipungut biaya antara Rp300 ribu sampai Rp600 ribu untuk sertifikat lunas yang mereka keluarkan," ungkapnya. [***]

Source; Antara

Hasil Pilpres AS Membuat Pasar Panik

Written By Unknown on Rabu, 09 November 2016 | 16.31.00


Jakarta, Jurnalsulteng.com – Hasil sementara pemilihan presiden AS cukup mengejutkan. Hingga saat ini, kandidat presiden AS dari Partai Republik Donald Trump mengungguli rivalnya, kandidat presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton.

Pasar pun langsung merespon hasil sementara ini, ditandai dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang cukup dalam.

Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp 13.155 kemudian bergerak menuju kisaran Rp 13.200 per dollar AS.

Kepala ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menjelaskan, pelemahan tersebut merupakan refleksi kepanikan pasar yang melihat hasil sementara penghitungan cepat yang menunjukkan kemenangan Trump atas Clinton. Akhirnya, dollar AS pun mengalami koreksi.

“Kita melihat sekarang indeks dollar AS saat ini terkoreksi ke level 96,33 dari penutupan hari sebelumnya yakni 97,86. Sehingga pelaku pasar cenderung shift ke yen jepang dan swiss franc,” jelas Josua yang dilansir Kompas.com, Rabu (9/11/2016).

Josua mengungkapkan, karena kondisi saat ini yang terjadi adalah risk off, maka sebagian besar mata uang Asia mengalami pelemahan, termasuk rupiah. Adapun mata uang Asia yang menguat hanya yen.

Menurut Josua, hingga akhir penghitungan cepat rupiah akan cenderung tertekan, bersamaan dengan mata uang Asia lainnya. Apabila benar adanya kemenangan Trump, maka diprediksi ada potensi gejolak di pasar keuangan global, layaknya ketika referendum Brexit lantaran ekspektasi pasar tak terwujud.

“Kebijakan Donald Trump terkait deportasi imigran ilegal, pemutusan hubungan perdagangan dengan China serta pemangkasan tax ratio yang berujung pada peningkatan utang pemerintah AS," kata Josua.

Hal itu yang pada akhirnya dapat menurunkan sovereign rating AS yang berpotensi berdampak negatif pada ekonomi global.  Nilai tukar Asia berpotensi cenderung melemah jika hal tersebut terjadi.(***)

Source; Kompas

TW III-2016, Pertumbuhan Ekonomi Sulteng Naik 7,58 Persen

Written By Unknown on Selasa, 08 November 2016 | 17.52.00


Palu, Jurnalsulteng.com - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan III 2016 (TW III-2016) naik sebesar 7,58 persen periode yang sama tahun 2015.

"Untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2016 dari TW I hingga TW III, jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 12,01 persen," ungkap pejabat BPS Sulteng, Sukadana Sufi`i  yang dilansir Antara.

Sukadana menjelaskan dari sisi produksi, kenaikan pertumbuhan ekonomi TW III-2016 mencapai 7,58 persen, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 32,38 persen, diikuti industri pengolahan 25,90 persen dan konstruksi sebesar 16,26 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen ekspor yang tumbuh 128,16 persen.

Pada pertumbuhan ekonomi 12,01 persen tahun 2016, dari sisi produksi dipengaruhi pertumbuhan tertinggi lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 48,93 persen, diikuti industri pengolahan 48,36 persen dan jasa keuangan dan asuransi 15,78 persen. Sementara dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen impor yang tumbuh 219,15 persen.

"Struktur perekonomian Sulteng, menurut lapangan usaha pada 2016 sampai TW III, masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yakni pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 29,43 persen. Konstruksi 12,53 persen serta pertambangan dan penggalian sebesar 12,09 persen," ungkap Sukadana.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi, kata Sukadana, hingga TW III-2016, pertambangan dan penggalian memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 5,18 persen, diikuti industri pengolahan sebesar 4,45 persen serta perdagangan dan reparasi mobil/motor sebesar 0,72 persen.

Lebih lanjut, kata Sukadana, pertumbuhan ekonomi Sulteng TW III-2016 terhadap TW II-2016 diwarnai oleh meningkatnya aktivitas produksi pengilangan LNG Donggi Senoro. Namun saat yang bersamaan, terjadi penurunan produksi tambang Nikel di Morowali yang cukup dalam, sehingga terjadi kontraksi lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 5,23 persen dan industri pengolahan sebesar -5,44 persen.

Kontraksi juga terjadi pada lapangan usaha konstruksi sebesar -0,89 persen serta pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar -1,85 persen.

"Perekonomian Sulteng diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku TW III-2016 mencapai Rp29,89 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp22,61 miliar," tutup Sukadana.  (***)

Source; Antara

Disahkan, UMP 2017 Naik 8,25 Persen

Written By Unknown on Rabu, 02 November 2016 | 07.32.00

Ilustrasi

Palu, Jurnalsulteng.com - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengesahkan Upah Minimun Provinsi (UMP) 2017 melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 561/806/DISNAKERTRANDA-G.ST/2016 tanggal 1 Nopember 2016 tentang UMP Tahun 2017.

UMP tahun 2017 mengalami kenaikan naik 8,25 persen atau Rp137.775 dari upah tahun 2016 sebesar Rp1.670.000 menjadi Rp1.807.775.

Dalam SK tersebut dijelaskan bahwa UMP Sulteng tahun 2017 adalah sebesar Rp1.807.775 per bulan, berlaku mulai 1 Januari sampai 31 Desember 2017

Penghitungan upah sehari bagi perusahaan dengan sistem waktu kerja 6 hari dalam seminggu, maka upah upah sebulan dibagi 25 hari. Jika perusahaan dengan sistem waktu kerja 5 hari dalam seminggu, maka upah sebulan dibagi 21 hari.

UMP tersebut diberlakukan bagi pekerja atau buruh yang masa kerja nol tahun, status pekerja masih lajang dan tidak memiliki keterampilan.

Kepada perusahaan yang telah memberikan upah lebih tinggi dari ketentuan UMP itu, dilarang untuk menurunkannya.

Kemudian perusahaan juga dilarang membayar upah di bawah ketentuan tersebut, serta UMP 2017 diberlakukan sejak 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2017.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulteng Abd Razak mengatakan dengan ditetapkannya UMP 2017 oleh gubernur, maka Sulteng telah melaksanakan ketetapan Pasal 44 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 tahun 2015 tentang Pengupahan.

Selain itu, semua rumusan dan perhitungan dalam aturan tersebut dikuatkan kembali dengan surat edaran Kementerian Ketenagakerjaan tanggal 17 Oktober 2016.

"Sebelum gubernur mengeluarkan SK UMP 2017, telah dilakukan rapat dewan pengupahan Sulteng, pada Kamis (27/10/2017)," katanya.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Sulawesi Tengah Arthur Pangemanan mengimbau kalangan pengusaha untuk membayar upah minimum yang telah ditetapkan untuk tahun 2017.

"Imbauan saya, supaya pengusaha di Sulteng dapat membayar upah minimum yang telah ditetapkan. Karena tahun depan sudah tidak ada lagi tawar menawar, siapa saja yang menjadi pengusaha harus taat hukum," katanya.

Bagi Arthur, seandainya ada pengusaha yang membayarkan gaji tenaga kerja mereka di atas upah minimum sangat bagus, tetapi tidak boleh di bawah upah minimum.

Untuk pengusaha yang tidak mampu melaksanakan upah minimum kata Arthur, dapat mengajukan permohonan dispensai penanguhan satu minggu sebelum tanggal 1 Januari 2016.

"Kalau itu tidak dilakukan, maka pengusaha itu dianggap mampu untuk melaksanakan ketetapan upah minimum," tutup Arthur. (***)

Source; Antara

Pengelola KEK Diminta Disiplin Master Plan

Written By Unknown on Jumat, 28 Oktober 2016 | 10.04.00


Palu, Jurnalsulteng.com - Ketua Dewan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu juga Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola meminta agar PT. Bangun Palu Sulteng selaku Badan Pengelola KEK disiplin terhadap rencana umum/master plan pembangunan kawasan.

"Sudah boleh membangun walaupun infrsatrukturnya belum terbangun, tetapi harus sesuai master plan, jangan lari dari master plan," kata Longki saat menerima sejumlah calon investor asing di ruang kerjanya, Kamis (27/10/2016).

Pertemuan calon investor didampingi Badan Pengelola KEK dan Administrator KEK Palu tersebut antara lain membahas rencana investasi di sektor energi dengan melibatkan salah satu perusahaan milik negara dari China.

Rencana itu dilakukan karena sejak KEK Palu ditetapkan pemerintah belum ada kepastian atas ketersediaan energi di kawasan strategis tersebut.

Menurut Longki jika ada perusahaan yang bersungguh-sungguh berinvestasi di KEK sudah dapat membangun sesuai tata ruang kawasan yang sudah ditetapkan sambil menunggu penyelesaian pembangunan infrsatruktur pendukung seperti jalan dalam kawasan, jalan penghubung ke pelabuhan, listrik dan air bersih.

Longki mengatakan jika hal itu dilakukan maka tidak ada masalah dengan pembangunan industri di KEK karena berjalan sesuai rencana umum yang telah ditetapkan oleh Dewan Nasional KEK.

Terkait ketersediaan listrik, Longki meminta kepada investor tidak perlu kuatir karena daya yang dihasilkan PLTA Sulewana Poso cukup untuk dipasok ke KEK.

"Bahkan PLTA Sulewana tidak mengoperasikan semua turbinnya karena yang masuk ke Palu hanya 35 megawatt, sementara kapasitas PLTA poso sudahh 195 megawatt," katanya.

Dia mengatakan dirinya tidak kuatir dengan pasokan energi karena saat ini PLTA Sulawena kembali membangun pembangkit di Sulawena dan diperkirakan paling lama dua tahun sudah dapat beroperasi.

"PLTA Poso itu sudah siap, tahun depan sudah ada ketambahan lagi," katanya.

Longki mengatakan jika ada perusahaan yang siap berinvestasi membangun pembangkit energi juga tidak ada masalah sepanjang menunjukkan kesungguhannya membangun energi.

Dia mengatakan jika nantinya terdapat kelebihan energi yang tidak terserap seluruhnya ke kawasan, pemerintah siap memfasilitasi distribusi energi tersebut ke PLN.

"Dulu waktu PT Bintang Delapan (salah satu industri pengolahan nikel di Morowali) membangun pembangkit untuk kepentingan smelter ada kelebihan daya, akhirnya juga dibeli PLN," katanya. (***)

Source; Antara

Tarif Listrik Akan Naik 3 Kali per 2 Bulan

Written By Unknown on Kamis, 27 Oktober 2016 | 12.44.00


Jakarta, Jurnalsulteng.com - Pemerintah kembali memangkas alokasi anggaran untuk subsidi tahun depan menyusul rencana penyaluran tertutup bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan LPG 3 kilogram, serta pengurangan jumlah pelanggan listrik berdaya rendah.

Salah satu strategi untuk menghemat subsidi adalah dengan menaikkan tarif listrik berdaya rendah (450 VA dan 900 VA) untuk pelanggan yang dianggap mampu dan tidak berhak lagi disubsidi, sebanyak tiga kali setiap dua bulan mulai tahun depan.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, alokasi dana untuk subsidi yang disiapkan pemerintah sebesar Rp160,1 triliun, turun dibandingkan dengan pagu tahun ini Rp177,7 triliun di APBNP 2016.

Pemangkasan terbesar menyasar pos belanja subsidi energi, yang berkurang Rp17 triliun menjadi Rp77,3 triliun. Sementara untuk belanja subsidi non-energi turun sedikit, dari Rp83,3 triliun menjadi Rp82,7 triliun.

Berikut rincian alokasi anggaran untuk subsidi 2017 dan pembandingnya (Rp triliun):

Alokasi              APBNP 2016     APBN 2017
Subsidi Energi        94,35              77,3
*BBM & LPG 3 Kg   43,68              32,3
*Listrik                     50,66              45
Subsidi Non-Energi 83,3               82,7
Total                           177,7            160,1

Dalam konferensi pers hari ini, Kamis (27/10/2016), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, pagu belanja subsidi energi turun signifikan pada tahun depan terutama berkat penyaluran BBM bersubsidi dan LPG 3 kg secara tertutup. Kebijakan ini diharapkan bisa menghemat anggaran sebesar Rp11,3 triliun.

Menurutnya, penyaluran bahan bakar bersubsidi secara tertutup tersebut akan dilakukan secara bertahap hanya kepada 26 juta rumah tangga miskin (RTM) dan 2,3 juta pelaku usaha mikro.

Sementara untuk subsidi listrik, pagu anggarannya dikurangi sebesar Rp5,65 triliun menjadi Rp45 triliun pada tahun depan. Untuk itu, pemerintah melalui PT PLN (Persero) akan menertibkan pelanggan listrik yang dianggap sudah tak layak menerima subsidi.

Sri Mulyani menjelaskan, langkah-langkah yang akan diambil antara lain, dengan membatasi penggunaan listrik golongan R1 atau berdaya 450 Volt Ampere (VA) hanya untuk 9,1 juta pelanggan.

Demikian pula dengan penggunaan listrik golongan R2 atau berdaya 900 VA, pemerintah membatasi hanya untuk 4,05 juta pelanggan saja.

"Untuk pelanggan rumah tangga mampu, dengan daya 900 VA, tarif akan disesuaikan secara bertahap tiga kali per dua bulan," tegas Sri Mulyani.

Dia mengatakan, kebijakan subsidi energi ini menggunakan pemutakhiran basis data terpadu (PBDT) 2015, yang dikelola oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Kementerian Sosial.(***)

Source; CNNIndonesia

Dinilai Merugikan Pemda, Retribusi Parkir Poso City Mall Dipertanyakan

Written By Unknown on Jumat, 21 Oktober 2016 | 20.31.00


Poso, Jurnalsulteng.com - Poso City Mall (PCM)  yang resmi beroperasi mulai Senin, 19 Oktober 2016, kini mendapat sorotan DPRD Kabupaten Poso yang mempertanyakan pungutan retribusi parkir kendaraan yang telah berlangsung selama dua bulan sebelum pembukaan Poso City Mall.

Anggota DPRD Poso Muhaimin Yunus Hadi kepada wartawan di Poso, Jumat (21/10/2016) mengatakan pungutan retribusi parkir di PCM seharusnya sudah dikenai pajak. Hal itu menurutnya sesuai dengan UU DLLAJR, UU No 57 dan Perda serta Perbup Poso, namun sampai saat ini pihak PCM tidak memberikan pajak tersebut ke daerah.

Dirinya mengklaim pihak Pemda Poso sangat lemah dalam menyingkapi pajak di PCM, akibatnya pemerintah daerah telah dirugikan oleh PCM.
  BACA JUGA BERITA PILIHAN
PGM Melanggar Perda
Ada THM di Kecamatan Religi
Banser Ansor Tolak THM di Kecamatan Religi

Menurut dia, seharusnya pihak PCM tidak melakukan pungutan parkir kendaraan sebab pungutan yang telah dilakukan secara otomatis dikenai aturan pajak ke daerah.

"Ada dalam UU dan Peraturan Bupati, mall itu sudah dikenai pajak retribusi kendaraan sebab sudah berjalan retribusi parkir kendaraan sejak dua bulan sebelum mall dibuka secara resmi. Namun sampai saat ini tidak ada pajak yang disetor ke Pemda Poso," tutur Muhaimin.

Dia katakan, dalam aturan Perda dan Perbub Kabupaten Poso, pembagian pajak tersebut sebesar 70 persen untuk pihak lain dan 30 persen masuk kas Pemda Poso.

Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Poso Okto Lembang yang dikonfimasi terpisah mengakui belum ada penagihan pajak, sebab masih akan berkoordinasi dengan instansi terkait, DPRD Poso dan pihak pengelola PCM.

Menurutnya, pembagian pajak 70:30 persen itu belum diterima oleh pihak PCM dengan alasan jika perbandingan dengan mall Palu hanya berkisar 15 persen untuk pihak Pemkot Palu.

Kontribusi ke Pemda Poso sebesar 30 persen sangat memberatkan PCM dengan melihat biaya pembuatan lokasi parkir yang ongkos penimbunannya saja sebesar Rp300 juta.

"Iya, kami saat ini masih akan berkoordinasi dulu dengan sejumlah instansi terkait dan DPRD Poso dan akan memanggil pihak PCM,” tutur Okto.

Dia menambahkan bahwa penagihan pajak di mall sesuai dengan Perda Nomor 15 tahun 2011 itu, bukan saja terkait retribusi parkiran, namun masih banyak yang akan dikenai pajak di dalam mall tersebut. (***)

Source; Antara

Garuda Indonesia Larang Penumpang Bawa Samsung Galaxy Note 7

Written By Unknown on Selasa, 18 Oktober 2016 | 06.08.00


Jakarta, Jurnalsulteng.com  – Maskapai penerbangan Garuda Indonesia secara resmi menyampaikan larangan untuk membawa atau menggunakan perangkat Samsung Galaxy Note 7 di seluruh penerbangan. Larangan ini dikeluarkan sesuai himbauan dari Federal Aviation Administration (FAA) pada 15 Oktober 2016 lalu.

Dalam keterangan tertulisnya yang dilansir VIVA.co.id, Senin 17 Oktober 2016, VP Corporate Communications Garuda Indonesia Benny S. Butarbutar mengatakan larangan ini merupakan buntut ditemukannya masalah pada baterai smartphone tersebut yang juga telah ditarik dari pasaran.

“Dengan ini kami menetapkan perangkat Samsung Galaxy Note 7 sebagai barang yang tidak boleh dibawa maupun digunakan di pesawat pada seluruh penerbangan Garuda Indonesia baik dalam kabin, bagasi maupun pada layanan kargo. Garuda Indonesia secara tegas melarang kepada seluruh penumpang untuk tidak membawa maupun menggunakan Samsung Galaxy Note 7 selama penerbangan, demi keamanan dan keselamatan penumpang,” kata Benny.

Benny menambahkan, Garuda Indonesia juga telah mengomunikasikan larangan tersebut di lingkungan internal untuk dapat disampaikan oleh para petugas yang berhubungan langsung dengan penumpang. Garuda Indonesia juga telah memasang imbauan ini secara tertulis di seluruh konter check-in di bandara maupun ticketing dan sales office Garuda Indonesia di seluruh Indonesia.

"Imbauan yang disampaikan oleh FAA berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan. Kami akan mengevaluasi imbauan ini sampai dengan adanya pengumuman resmi dari FAA,” ungkap Benny.

Kebijakan larangan membawa dan menggunakan perangkat Samsung Galaxy Note 7 tersebut juga merupakan bagian dari komitmen perusahan dalam mengedepankan aspek safety pengguna jasa selama melakukan penerbangan bersama Garuda Indonesia.


Source; VIVA.co.id

Distribusi Pangan di Sulteng Bermasalah

Written By Unknown on Selasa, 11 Oktober 2016 | 10.36.00


Ilustrasi

Tolitoli, Jurnalsulteng.com - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola meminta jajarannya untuk fokus mengatasi masalah distribusi dan mata rantai perdagangan komoditas pangan agar harga pangan bisa ditekan.

Ia mengemukakan hal itu setelah menerima laporan Ketua Bappeda Patta Tope pada Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Tengah di Tolitoli, Senin  (10/10/2016) malam, soal tingginya harga bahan pangan di daerah itu.

Menurut Patta Tope, provinsi berpenduduk hampir 3 juta jiwa ini, memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia namun memiliki angka kemiskinan yang tinggi pula.

Selama semester I 2016, pertumbuhan ekonomi Sulteng 14,38 persen, sedangkan nasional 5,03 persen dan angka pemerataan pendapatan (gini ratio) juga cukup baik yakni 0,37 persen sedang nasional 0,4 persen.

"Namun kenyataannya penduduk miskin daerah ini juga sangat tinggi yakni mencapai 14,45 persen atau sekitar 420.000 jiwa," ujarnya.

Menurut Patta Tope, hal ini disebabkan garis kemiskinan Sulteng cukup tinggi yakni mencapai Rp375.000 sementara Sulsel hanya Rp261.000.

Artinya, bila total belanja masyarakat Sulteng itu di bawah Rp375.000, maka dia akan termasuk penduduk miskin.

"Dengan angka kemiskinan 420.000 jiwa, berarti ada 420.000 jiwa penduduk Sulteng yang belanja hidupnya di bawah Rp375.000/orang/bulan," ujarnya.

Menurut Patta Tope, garis kemiskinan Sulteng cukup tinggi karena harga bahan pokok, khususnya pangan cukup tinggi dibanding daerah lain.

Mengapa harga pangan tinggi, katanya, karena jalur distribusi yang terhambat serta mata rantai perdagangan cukup panjang.

"Kalau di Sulawesi Selatan itu mata rantai perdagangan pangan hanya dua tingkat sudah sampai ke konsumen akhir, tetapi di Sulteng bisa mencapai lima tingkat, sehingga harganya mahal setelah sampai ke konsumen akhir," tuturnya.

Gubernur berharap semua instansi terkait menangani secara serius masalah distribusi dan mata rantai perdagangan bahan pokok, khususnya pangan, agar harganya bisa ditekan.

Rakor Dewan Ketahanan Pangan ini mengambil tema sinergi dan integritas program pangan dan gizi menuju Sulawesi Tengah yang maju mandiri dan berdaya saing.

Rakor yang diikuti para bupati/wali kota se-Sulteng ini digelar untuk memperingati Hari Pangan Sedunia tingkat Provinsi Sulteng 2016 yang dipusatkan di Kota Tolitoli.[***]

Source; Antara 

Ruslan Nurung Pimpin Kadin Donggala

Written By Unknown on Rabu, 05 Oktober 2016 | 11.38.00

Ruslan Nurung, SE

Donggala, Jurnalsulteng.com - Ruslan Nurung, SE terpilih menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin)  Kabupaten Donggala periode 2016-2021 melalui hasil pemilihan  Musyawarah Kabupaten (Muskab) Kadin Donggala ke-VI   Selasa (4/10/2016) kemarin.

Perebutan posisi nomor satu Kadin Donggala itu, diperebutkan dua calon yakni pengusaha muda Ruslan Nurung, SE dan Moh Yasin Lataka, SE.

Dalam proses pemilihan yang berlangsung di Kantor Kadin Sulteng tersebut,  Ruslan Nurung berhasil mengantongi 47  suara,  sementara Moh Yasin hanya 37 suara dari 86 suara yang diperebutkan, karena dua suara dinyatakan batal.

Ketua Kadin Donggala  terpilih Ruslan Nurung mengatakan langkah awal yang akan dilakukan selain membenahi struktur kepengurusan, juga yang menjadi  prioritas adalah  membangun kantor karena  selama ini Kadin Donggala belum memiliki kantor yang refresentatif.

"Ini penting agar aktifitas Kadis bisa lebih bergairah. Apalagi Kadin saat ini memiliki peran strategis bagi perkembangan industri di Kabupaten Donggala," tuturnya.

Tidak salah jika ia berkomitmen akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan tak akan berhenti di tengah jalan. 
“Saya mengharapkan dukungan dan kerjasama seluruh pengurus dan anggota, serta menjalin hubungan baik dengan pemerintah daerah. Marilah kita bekerjasama dan marilah kita bersama kerja,” kata Ruslan kepada Jurnalsulteng.com, Rabu (5/10/2016).

Ruslan juga menyakini dengan visi misi yang diembannya,  diharapkan bisa menata serta mewujudkan perekonomian yang lebih  baik  lagi bagi pelaku usaha ekonomi di Kabupaten Donggala. "Intinya  Kadin bakal menjadi pionir untuk memajukan perekonomian di Kabupaten Donggala," kata Ruslan.

Namun untuk mewujudkan hal tersebut, semua upaya harus bersinergi dengan program dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Donggala.

Makanya usai menyusun struktur kepengurusan, pihaknys bersama pengurus lain akan menemui Bupati Donggala Drs Kasman Lassa guna menyampaikan rencana kerja Kadin Donggala lima tahun kedepan.

Sebagai mitra pemerintah tambah Ruslan,  Kadin Donggala akan menjalin komunikasi dan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Donggala.  Dengan demikian, pembangunan di Kabuapten Donggala akan berjalan dengan baik salah satunya karena adanya sinergitas antara pengusaha atau dalam hal ini Kadin  dengan Pemda.

"Tentunya kami akan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam membangun Donggala, terutama di sektor perekonomian," ungkapnya.

Dalam memimpin Kadin Donggala lima tahun ke depan,  pihaknya juga  akan memperkuat sumber daya manusia (SDM) pengurus yang memiliki kredibilitas dan akuntabilitas di bidangnya masing-masing.  Kesolidan pengurus juga menjadi prioritas yang akan dilakukan sehingga bisa menjalankan semua program Kadin Donggala dengan baik.

"Jelasnya program yang akan dijalankan akan disesuaikan dengan kebutuhan anggota dan juga para pengusaha di Kabupaten Donggala," pungkasnya. (***)

Rep/Red; Agus Manggona

Perpanjangan Izin Ekspor Konsentrat Jadi Malapetaka Iklim Investasi

Written By Unknown on Selasa, 04 Oktober 2016 | 22.36.00

Ahmad M. Ali

Jakarta, Jurnalsulteng.com - Anggota Komisi III DPR RI Dapil Sulawesi Tengah, Ahmad M. Ali mengkritisi rencana Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan, yang akan memperpanjang relaksasi ekspor konsentrat. Perpanjang tersebut dilakukan dengan merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara (PP 1/2014).

Dalam siaran persnya yang diterima Jurnalsulteng.com, Selasa (4/10/2016) Ahmad M.Ali  mengatakan, kebijakan memperpanjang relaksasi eksport konsentrat ini merupakan malapetaka bagi iklim investasi di Indonesia. “Kebijakan ini menunjukkan, Pemerintah Indonesia tidak konsisten dan cenderung menjebak para investor yang telah membangun smelter,” ujarnya.

Ahmad M. Ali yang juga Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Sulawesi Tengah ini juga mengatakan, kebijakan ini akan memperburuk iklim investasi karena tidak adanya kepastian hukum dan perlindungan terhadap investasi.

“Semua rencana yang telah dibangun akan berubah dan kepercayaan investor makin memudar karena tidak adanya kepastian hukum,” terangnya.

Menurut Ahmad M. Ali, perencanaan pemerintah untuk membangun kerangka dasar industri nasional berbasis pada partisipasi investor, seringkali tidak laku dalam pergaulan dunia internasional karena kita tidak konsisten. “Setiap pergantian rezim selalu diikuti dengan perubahan aturan yang menganggu secara subtansi rencana induk investasi yang telah disepakati,” tambahnya.

Anggota Komisi III dari Fraksi Partai NasDem tersebut meminta sebaiknya pemerintah meninjau kembali rencana kebijakan tersebut. Sebab kata dia, hal itu bukan jalan keluar, malahan memperburuk iklim investasi yang sedang berusaha diperbaiki. Ali meminta agar pemerintah bisa memikirkan ulang skema tersebut untuk menjaga kewibawaan hukum nasional.

Lebih lanjut Ali menerangkan, selama masa perpanjangan relaksasi pemerintah memaksakan perusahaan-perusahaan tambang dapat memenuhi kewajibannya melakukan hilirisasi mineral di dalam negeri dengan menyelesaikan pembangunan smelter (fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral).

Tetapi lanjut dia, pada sisi yang lain bahan baku mineral tetap dieksport ke luar. “Bukankah ini kebijakan yang saling bertentangan, anda mengundang dan memaksa investor membangun pabrik, tetapi disisi yang lain juga eksport bahan baku mineral juga dibolehkan. Kita mau bangun industri nasional yang visioner atau sekedar untuk mengeksploitasi mineral alam?” tutupnya.(Trs/*)

PT. KSG Belum Berikan Konpensasi untuk Petani Plasma di Morut

Written By Unknown on Kamis, 29 September 2016 | 10.56.00

Petani sawit (Ilustrasi)

Palu, Jurnalsulteng.com - Petani plasma di Kabupaten Morowli Utara (Morut), Provinsi Sulawesi Tengah mengeluh hingga kini mereka belum juga menerima konpensasi lahan dari pihak perusahaan perkebunan kepala sawit yang manfaatkan lahan petani.

"Sudah berjalan delapan tahun terakhir ini, PT Kirana Sinar Gemilang (KSG) belum juga memberikan biaya konpensasi atas lahan masyarakat yang digunakan untuk kebun sawit," kata E Mangkinda, tokoh masyarakat asal Desa Po`ona, Kecamatan Lemboraya, Rabu (28/9/2016).

Ia mengatakan khusus di Desa Po`ona ada sekitar 150 petani plasma sawit yang tanahnya digunakan untuk pengembangan komoditas perkebunan tersebut.

Data sementara untuk penanam sawit tahap pertama sekitar 500 hektare.

Perjanjian awal dengan anak perusahaan dari PT Sinar Mas, jika sawit sudah berhasil, maka petani plasma pemilik lahan akan menerima konpensasi dari perusahaan.

Namun, kata Mangkida yang juga Ketua BPD Desa Po`ona, hingga kini pihak perusahaan belum juga merealisasi biaya konpensasi dimaksud.

"Kami sudah pernah bertemu dengan pimpinan PT Kirana Sinar Gemilang dan perusahaan tetap bersedia memenuhi hak-hak petani plasma, tetapi belum juga direalisasi," katanya.

Alasan dari perusahaan itu, kata Mangkinda, sawit yang dikembangkan di areal lahan masyarakat di Desa Po`ona maupun desa-desa lainnya di Kecamatan Lemboraya, Kabupaten Morowali Utara belum merata berbuah.

Pihak perusahaan sebelumnya telah sepakat untuk bagi hasil dengan para petani plasma 65-35 persen.

Dalam pertemuan dengan pihak perusahaan dan pemerintah kecamatan dan desa, juga disepakati segera membentuk koperasi petani plasma.

Pembentukan koperasi dimaksud juga hingga kini belum terealisasi. Bahkan dalam pertemuan petani meminta perusahaan sawit untuk tidak menebang tanaman-tanaman produktif yang ada di setiap lahan milik petani.

Tetapi dalam kenyataannya, ada sebagian tanaman produktif milik masyarakat juga ikut ditebang. "Ini jelas merugikan petani,"katanya.

Hal senada juga disampaikan Manda, seorang petani dan tokoh masyarakat di Kecamatan Lemboraya.

Ia membenarkan ratusan petani plasma sawit di wilayah tersebut hingga kini terus mempertanyakan soal konpensasi bagi hasil produksi sawit yang sempai sekarang ini belum juga direalisasi pihak perusahaan.

Ia juga mengatakan sebelumnya, saat penggodokan calon petani plasma (CPP) antara perusahaan dengan aparat pemerintah desa sama sekali tidak melibatkan BPD dan LPM Desa Po`ona.

"Penggodokan CPP hanya melibatkan pihak perusahaan dengan aparat pemerintah desa. Kami dari BPD dan LPM tidak pernah diikutsertakan," katanya dengan nada kecewa.

Menurut dia, seharusnya dalam penentuan CPP perlu melibatkan semua pihak, termasuk BPD dan LPM setempat.

Kabupaten Morowali Utara merupakan daerah pengembangan sawit dan karet di Provinsi Sulteng. Struktur tanah dan iklim sangat cocok untuk budidaya tanaman perkebunan sawit dan karet.(***)

Source; Antara 

Investor Siap Bangun Pembangkit Listrik 150 MW di Sulteng

Written By Unknown on Senin, 26 September 2016 | 21.53.00

Ilustrasi

Palu,  Jurnalsulteng.com - Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Sunaryo mengatakan salah satu perusahaan nasional menyatakan siap membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas 150 MW di daerah ini.

"Pekan kemarin, telah ada satu perusahaan yakni PT. Soma Power Indonesia (SPI) yang bertemu langsung Gubernur Sulteng untuk membahas rencana investasi tersebut," katanya di Palu, Senin (26/9/2016).

Bambang menjelaskan perusahaan tersebut akan membangun PLTA dengan kapasitas antara 100 sampai 150 megawatt memanfaatkan potensi air Sungai Bongka di Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Unauna.

"Besarnya investasi menurut Direktur Utama SPI, Franky Yason, antara 300-400 juta dolar AS," ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, kata Bambang, tujuan dibangunnya PLTA yakni menyediakan suplai tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan energi di sistem kelistrikan Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo, dan pada umumnya di Sulteng.

Sementara itu Direktur Utama SPI Franky Yason mengaku telah mengantongi izin prinsip yang ditandatangani Gubernur Sulawesi Tengah, dan izin prinsip penanaman modal dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dilengkapi dengan hasil tudi kelayakan dan rekomendasi penggunaan hutan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah.

Di tempat terpisah, Gubernur Sulteng Longki Djanggola menyatakan sangat mendukung rencana investasi tersebut.

Dia meminta perusahaan tersebut segera melengkapi semua persyaratan perizinan sesuai undang-undang yang berlaku.

Menurut gubernur, saat ini beban puncak sistim kelistrikan Sulawesi Tengah mencapai 118 megawatt, sementara daya mampu mencapai 156 MW, sehingga sistim kelistrikan Sulawesi Tengah secara total surplus 38 MW.

PLN juga terus mengusahakan satu sistim interkoneksi kelistrikan Sulawesi yang dapat menghubungkan seluruh wilayah di pulau ini dalam satu sistem kelistrikan seperti sistim yang sudah terbangun di Jawa-Bali dan Sumatera.

"Kami hanya membutuhkan perusahaan yang serius untuk membangun daerah ini," ujar gubernur. (***)

Source; Antara

REI Berharap Perizinan Satu Pintu untuk Sektor Perumahan

Written By Unknown on Sabtu, 24 September 2016 | 10.09.00

Salah satu perumahan di Kota Palu. REI Sulteng mengharapkan pelayanan perizinan perumahan dilakukan satu pintu. (Dok.Jurnalsulteng)

Palu,  Jurnalsulteng.com - Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Tengah H Liardi berharap pelayanan perizinan di sektor perumahan dapat dibuat melalui satu pintu sehingga tidak terkesan lama dan berbelit-belit.

"Harusnya semua izin di sektor perumahan dikeluarkan lewat satu pintu, tapi kenyataanya dikeluarkan dari berbagai instansi yang berbeda," katanya yang dikutip Antara.

Liardi mengakui bahwa pelayanan satu pintu yang digalakkan pemerintah saat ini masih sebatas pelayanan soal perizinan usaha, bukan pelayanan perizinan untuk pembangunan perumahan.

"Saat ini permintaan rumah (backlog) terus bertambah sehingga dukungan pemda sangat diharapkan, apalagi soal pelayanan perizinan," ungkapnya.

Menurut Liardi, dalam sektor pembangunan perumahan terdapat empat pilar yang mendukung yakni pihak perbankan sebagai pilar penyalur pembiayaan, pengembang sebagai pilar penyediaan fisik rumah, pemerintah sebagai pilar regulator kebijakan dan masyarakat sebagai pilar penerima atau konsumen.

"Jadi kalau salah satunya tidak berjalan dengan baik, maka program pemerintah penyediaan sejuta rumah pasti lambat tercapai," ujarnya.

Selain itu, kata Liardi, seharusnya pemerintah daerah dapat melayani investornya dengan baik.

"Bagaimana suatu daerah baik dalam segi pembangunan, kalau investornya saja baru masuk, sudah dibebani begitu banyak permintaan dari pemda," ungkapnya.

Sehingga bagi Liardi, pengembang bukan hanya mengutamakan kepentingan bisnis, tapi pihaknya juga peduli terhadap masyarakat.

"Contohnya, mengapa pengembang membangun rumah bersubsidi yang bahan dindingnya adalah batako, padahal bila kami mengganti dengan batu bata saja sudah menjadi rumah mewah dengan tipe 36 dan bisa dihargai sampai Rp200 juta," katanya.

"Itu karena kepedulian kami sebagai pengembang, dengan melihat pasar rumah bersubsidi begitu besar walaupun keuntungan yang didapatkan sedikit," tutup Liardi.(***)

Source; Antara

APBN Direvisi, DBH Sulteng Dipotong Rp5 Miliar

Written By Unknown on Selasa, 20 September 2016 | 21.19.00

Ilustrasi

Palu, Jurnalsulteng.com - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) Sulawesi Tengah Patta Tope mengatakan dana bagi hasil (DBH) untuk daerah ini dipotong oleh pemerintah pusat sebesar Rp5 miliar akibat revisi APBN Perubahan tahun 2016.

Ia mengatakan, revisi APBN Perubahan tersebut ikut mempengaruhi struktur anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2016.

Menurut dia, ada tiga hal yang memengaruhi yakni pemotongan dana alokasi khusus (DAK), pemotongan dana bagi hasil (DBH) dan sejumlah program pemerintah pusat di Sulteng dipastikan akan tertunda.

"Untuk nilai DAK yang dipotong saya lupa berapa besarnya, tetapi untuk DBH, Sulteng terkena imbas Rp5 miliar," ungkapnya.

Sementara itu, terkait serapan APBD Sulteng tahun 2016 sampai bulan Agustus, yang masih berada pada angka 52,99 persen, dia mengatakan bahwa tidak ada pengaruh terhadap penundaan penyaluran dana alokasi umum (DAU).

"Untuk dua daerah di Sulteng, Banggai dan Banggai Kepulauan bukan di potong tapi ditunda, karena pemerintah pusat memperkirakan bahwa serapan anggaran akhir tahun tidak sesuai target," ujarnya, Selasa (20/9/2016).

Untuk Pemprov Sulteng, Patta Tope tetap optimistis bahwa serapan anggaran nantinya masih berada pada angka 90 persen.

Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani telah memutuskan untuk melakukan pemangkasan APBN perubahan sebesar Rp133 triliun.

Angka tersebut berdasarkan pengurangan belanja kementerian atau lembaga (K/L) sebesar Rp65 triliun. Selain itu, dana transfer daerah pun ikut dipangkas sebanyak Rp68,8 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pemotongan diarahkan ke aktivitas yang dianggap tidak penting, seperti perjalanan dinas, konsinyering, dan pembangunan gedung pemerintah.

Menkeu menyatakan ada tiga faktor yang mendorong revisi APBN-P 2016. Pertama, tekanan yang berat dari sisi penerimaan pajak dalam dua tahun terakhir. Lalu melemahnya volume dan aktivitas perdagangan dan kondisi ekonomi global yang masih melemah. (***)

Source; Antara

Sulteng Bina Seribu Pelaku Industri Kreatif

Written By Unknown on Senin, 19 September 2016 | 08.56.00

Ilustrasi

Palu,  Jurnalsulteng.com - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membina seribu pelaku usaha industri kreatif yang ditempatkan di seluruh objek wisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Hj. Siti Norma Mardjanu yang dikutip Antara menyatakan bahwa pembinaan itu berupa pelatihan dan pemberian bantuan-bantuan.

Menurut Norma, ke-1000 pelaku industri kreatif tersebut semuanya terlibat dalam pengebangan wisata, mulai dari wisata bahari, wisata alam dan lainnya.

Usaha yang mereka kembangkan antara lain pembuatan berbagai jenis karya seni, industri rumah tangga atau kerajinan tangan, warung makan, cottage dan homestay.

Dinas Parekraf tidak memberikan bantuan berupa dana kepada pelaku industri kreatif tersebut yang ada di objek-objek wisata. Melainkan pelatihan dan bantuan berupa barang jadi atau kebutuhan lainnya terkait pengebangan usaha mereka di sekitar objek wisata.

"Tidak ada bantuan berupa uang atau dana tunai, yang ada hanyalah bantua berupa barang jadi yang diberikan langsung kepada para pelaku industri kreatif," urainya.

Disparekraf juga memberikan pembinaan mental dan keterampilan para pelaku industri kreatif dalam hal menerima dan melayani tamu yang datang berwisata.

Dia mengutarakan dalam satu paket pembinaan mental dan pengembangan usaha terdiri atas 300 orang, saat ini pihaknya telah membina kurang lebih lima paket pelaku industri kreatif.

Menurut Norma, pihaknya memberikan perhatian khusus kepada masyarakat di sekitar lokasi-lokasi wisata untuk melakukan pelatihan dan menyalurkan bantuan tersebut karena peran aktif mereka akan sangat menentukan daya tarik sebuah lokasi wisata.

Ia berharap, lewat dukungan semua pihak, provinsi ini dapat menggaet wisatawan asing dan domestik sebanyak tiga juta orang setiap tahun.

Pada 2015, provinsi ini dikunjungi 2,9 juta wisatawan, sekitar 20.000 di antaranya adalah wisatawan mancanegara.(***)

Source; Antara

Nihil Pemasukan, Gubernur Bekukan PT. Pembangunan Sulteng

Written By Unknown on Kamis, 15 September 2016 | 08.55.00

Gubernur Sulteng Longki Djanggola bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pembangunan Sulteng menggelar RUPS LB di Kantor Gubernur, Rabu (14/9/2016) (Foto: Humas Pemprov)

Palu, Jurnalsulteng.com - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola akhirnya membekukan sementara operasional PT Pembangunan Sulawesi Tengah melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS LB) yang berlangsung di Kantor Gubernur, Rabu (14/9/2016).

Pembekuan itu dilakukan gubernur selaku pemegang saham pengendali karena selama ini perusahaan daerah tersebut belum memiliki kegiatan bisnis untuk membantu perekonomian daerah dan memberi pemasukan bagi kas daerah.

Rapat yang berlangsung di Kantor Gubernur dan berlangsung tertutup tersebut tidak dihadiri Direktur Utama Hening Mailili, namun RUPS luar biasa tetap berlangsung karena sudah dihadiri para komisaris dan pemegang saham.

"Setelah mendapat persetujuan dari para komisaris dan pemegang saham Pak Gubernur akhirnya memutuskan untuk membekukan sementara perusahaan daerah itu," kata pejabat di Biro Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Sulawesi Tengah Adiman, Rabu (14/9/2016) sore.

Menurut Adiman, gubernur meminta kepada jajaran direksi agar membuat laporan tertulis tentang pertanggunjawaban keuangan serta menyusun master plan bisnis perusahaan.

"Pak gubernur juga meminta supaya dilakukan pengkajian kembali atas gaji direksi dan komisaris," katanya.

Adiman mengatakan gubernur Longki Djanggola memberikan batas waktu satu bulan untuk menyusun laporan keuangan dan rencana bisnis perusahaan.

Gubernur juga berharap kepada managemen PT. Pembangunan Sulteng segera melakukan pembenahan dan pemulihan baik struktur organisasi, sistem penggajian sampai dengan pelantikan direksi Sulteng yang baru.

Menurut Adiman gubernur kecewa dengan kinerja perusahaan daerah tersebut karena hingga kini belum berjalan baik sebagaimana diharapkan pemerintah daerah.

Turut hadir dalam RUPS luar biasa tersebut yakni Baharudin HT selaku ketua Koperasi Pegawai Negeri Beringin, salah satu pemegang saham, Komisaris Utama Hajir Hade, Komisaris Helmy D Yambas, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bunga Elim Somba dan Kepala Biro Perekonomian.(***)

Source; Antara

Mal Tatura Rawan Bangkrut

Written By Unknown on Jumat, 09 September 2016 | 14.15.00

MTP kini nyaris ditinggalkan penyewa tenant dan pengunjung. Padahal, MTP sempat menjadi kebanggan warga Kota Palu karena merupakan salah satu asset Pemkot Palu. (Foto: Trisno/Jurnalsulteng.com)

Palu, Jurnalsulteng.com - Lesunya perekonomian saat ini sudah mulai dirasakan di pusat-pusat bisnis Kota Palu. Salah satunya, adalah Mal Tatura Palu (MTP) yang 98 persen sahamnya dimiliki Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.

Hasil pengamatan wartawan Jurnalsulteng.com, pusat perbelanjaan terbesar di bekas terminal Masomba itu saat ini mulai sepi. Di lantai dua yang 90 persen diisi tenant-tenant lokal dan nasional tutup. Begitu juga pemandangan di lantai tiganya.

Mal kebanggaan warga kota kini bagai mati segan hidup menunggu wafat. Padahal, investasi membangun mal itu menyerap anggaran ratusan miliar.

Melihat kondisi salah satu asset Pemkot Palu ini, salah seorang anggota Tim Pendamping Pemkot Palu, Andono Wibisono ketika dikonfirmasi, Jumat (9/9/2016) di Masjid Baiturahim Lolu Palu membenarkan kondisi lesunya pusat bisnis perbelanjaan di Palu, termasuk Mal Tatura yang.

''Bahkan saya dapat laporan ada tenant yang menunggak hutang sampai ratusan juta. Ada tenant nasional tutup dan soal managemen yang lemah. Semuanya sudah dilaporkan ke Walikota,'' jelasnya.

Ia berpendapat sebaiknya Mal Tatura di-remanagemen. Karena dari sisi bisnis melanggar fatsun bisnis. Karena sekarang managemen memiliki saham di mal lain, yang sama kur bisnisnya.

 ''Saya juga pernah mengelola bisnis media. Tidak mungkin saya bisa mengelola bisnis dua media yang dalam prakteknya sebagai kompetitor. Itu mustahil. Dan bila terjadi pasti ada yang mati. Sekarang tinggal bagaimana menyikapi segera. Selamatkan Mal Tatura,'' terangnya.

Bila kondisi ini tidak segera dilakukan perubahan managemen, dikuatirkan MTP jatuh dan bakal berhutang lagi seperti sebelumnya. Kini biaya operasional jalan terus. Sementata keselamatan karyawan MTP harus jadi pertimbangan utama, agar terhindar  dari PHK.

Ia juga mengaku pernah ditemui salah satu pemegang saham Hidayat S.sos. Dan dirinya juga menyarankan agar segera membicarakan Mal Tatura Palu dengan Pemkot. Karena MTP adalah kebanggaan orang Palu. Di indonesia hanya Pemkot Palu yang memiliki mal. Nilai asetnya sekarang taksirannya sudah mencapai Rp200 miliar.

''Sebaiknya ada appresel independen menaksir kembali nilai aset MTP. Dan itu bisa dilakukan dengan cara re-managemen. Agar Ramayana juga selamat dan karyawan mal juga tidak gelisah dari PHK,'' tandas anggota TP yang sering melontarkan kritik tajam itu.(***)

Rep; Sutrisno
Red; Agus Manggona

Jurnalsulteng.com on Facebook

 
Developed by : Darmanto.com
Copyright © 2016. JURNAL SULTENG - Tristar Mediatama - All Rights Reserved
Template by Creating Website
Proudly powered by Blogger