![]() |
| Jokowi-JK |
Di jejaring sosial Twitter, account @ISNANDARAgeram dengan kenaikan harga sayuran tersebut. Menurut dia, rakyat semakin tersiksa dengan kenaikan yang dialami beberapa barang pokok di pasaran.
"Harga beras belum stabil, elpiji 3 kg susah, harga sayuran mulai merangkak naik, semakin menangis dah rakyat," kicaunya.
Akun @ichamelicha mengaku sedih karena hampir seluruh harga barang-barang pokok mengalami kenaikan. "Aku sedih semua pada naik hiks," curhatnya sambil memasang ekspresi sedih.
Akun @anditafungky ikut kesal. Harga yang mengalami kenaikan tidak hanya satu barang, melainkan beberapa barang yang berkaitan.
"Beras naik, sayur mayur naik, tiket kereta api pun juga akan naik. Makan apa kita ndo," keluhnya.
Akun @DDanoko menyebut, pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai era kenaikan harga. Sebab, baru bekerja sekitar lima bulan, sudah menaikkan beberapa harga. "Rezim kenaikan harga," cuitnya.
Akun @MuliaMeizir mempertanyakan, kenapa harga sayuran dapat mengalami kenaikan. Padahal, harga beras, gas elpiji ukuran 3 kg masih mahal. "Kapan turunnya harga beras? Apa hanya di medsos turun. Di pasar sampai hari ini masih mahal, apalagi di eceran warung tidak berubah harganya. Sayuran jangan naiklah," pintanya.
Akun @susan_agustin berkelakar, kenaikan harga ini berdampak negatif bagi masyarakat. Apalagi bagi masyarakat yang hanya memakan sayur-sayuran. "Kasihan yang lagi diet, dan vegetarian. Harga sayuran pada naik bu," katanya.
Akun @abu_waras berguyon, apabila pemerintah sudah tidak dapat mengatasi harga sebaiknya menyerah saja. Jangan sampai rakyat yang dijadikan korban ketidaksanggupan pemerintah. "Kalau sudah tidak sanggup lambaikan tangan pada rakyat," ketusnya.
Akun @ipikernaka mengatakan, kenaikan harga sayuran dan barang-barang lainnya merupakan tanggung jawab pemerintah. Sehingga, kata dia, jika pemerintah tidak mampu menstabilkan harga, maka harus mundur.
"Bila beras naik, sayuran naik, BBM naik, gas naik, listrik naik lagi dan lagi, nanti pasti ada yang harus diturunkan!" celotehnya.
Sebaliknya, akun @fkhstywn mensyukuri kenaikan harga sayuran. Menurut dia, kenaikan harga tersebut dapat memberikan keberkahan bagi para petani sayuran.
"Para petani makmur nih, kalau harga-harga dinaikin. Beras naik, sayur mayur naik," ujarnya.
Sementara, tweeps @susi_amigo mengaku tidak sedih dengan kenaikan harga sayuran. Sebab, dia membeli sayuran di pasar. "Untung sayuran nggak beli, tinggal metik dikebun. Haha," kicaunya.
Tweeps @Idberkebun mengajak netizen lain menjadikan kenaikan harga sayuran ini sebagai pembelajaran. Dia mengklaim, masyarakat akan lebih hemat dan sehat apabila sayuran yang dikonsumsi hasil tanam sendiri. "Kalau mengebun sendiri, nggak akan berpengaruh. Mari kita berkebun," ajaknya.
Tweeps @fanifauziah_memberikan tips kepada netizen lainnya. Menurut dia, masyarakat harus mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi pengeluaran yang tidak penting, sehingga dapat membeli kebutuhan pokok sehari-hari, seperti sayuran.
"Bahan pokok pada naik, beras, sayuran, dan lain-lain, tapi karena kebutuhan bagaimana pun diusahakan harus terpenuhi, harus mengesampingkan keinginan yang lain," kicaunya.
Masyarakat belum bisa tersenyum lebar melihat harga kebutuhan pokok saat ini. Meski harga beras sudah sedikit turun, kini harga sayuran merangkak naik. Ada yang menganggap kenaikan itu karena hujan yang beberapa hari ini turun, sehingga jalur distribusi terhambat.
Berdasarkan pantauan, harga sayuran di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, juga mengalami kenaikan. Seorang pedagang sayuran di sana, Imam mengatakan, kenaikan harga terjadi selama sepekan terakhir. Kenaikan harga itu terjadi selama bertahap. "Dari Pasar Induk Kramat Jati memang mahal," kata Imam, kemarin.
Dia menuturkan, sekarang ini untuk memasok cabe rawit merah harus merogoh kocek sebesar Rp 37 ribu per kg. Sementara bawang merah Rp 23 ribu per kg.
"Kalau barang masih banyak. Tapi memang lagi mahal di sana (Pasar Induk)," keluhnya.
Plt Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Winny Dian Wibawa mengaku heran dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Pasalnya, harga beras cenderung mengalami penurunan pekan ini, serta harga pangan lainnya seperti ayam, telur dan sayur-sayuran berdiam di posisi stabil.
"Saya kemarin sudah melakukan pemantauan keliling Jawa Tengah, di sana harga beras mengalami penurunan dan harga pangan stabil," kata Winny, kemarin.
Mengetahui adanya kenaikan harga di pasaran, ia mengaku heran. Sebab untuk tomat, bawang dan sayuran lainnya aman-aman saja. Ia pun akan melakukan pengecekan untuk mengetahui daerah mana saja yang mengalami kenaikan harga beras dan pangan lainnya. Meski begitu, ia mengakui untuk cabe, pasokannya tengah kurang.
Namun situasi tersebut tidak akan lama karena sebentar lagi akan terjadi panen. "Tapi seharusnya memang harga pangan normal karena pasokan kita sudah bagus," tuturnya.
Penyebab harga sayuran mahal beragam. Misalnya, karena gagal panen atau lahan kebanjiran. Namun, ia belum dapat menyebutkan data-data kawasan mana saja yang mengalami gagal panen.[Rmol]





0 komentar:
Posting Komentar