>
Headlines News :
Home » , » Mau Bisnis Waralaba? Perhatikan Lima Hal Ini

Mau Bisnis Waralaba? Perhatikan Lima Hal Ini

Written By Unknown on Minggu, 14 September 2014 | 14.21.00

Salah satu gerai Alfamart. (Ilustrasi)
Jurnalsulteng.com- Bisnis ritel dan waralaba semakin berkembang pesat di dalam negeri. Dalam dua dekade terakhir, bisnis sektor ritel terus berkembang. Industri ini tumbuh subur 10 tahun terakhir selepas krisis ekonomi 1997.

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 230 juta jiwa dengan gaya hidup yang semakin berkembang di masyarakat telah menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama pengembangan bisnis waralaba baik pemain lokal maupun asing.

Tidak hanya jumlah penduduk dan gaya hidup, tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia juga menjadi magnet bagi pelaku bisnis waralaba. Indonesia menjadi pasar empuk bagi pelaku bisnis di sektor konsumsi.

Tidak heran jika bisnis mini market atau ritel semakin menjamur. Bahkan, ritel-ritel asing mulai antre untuk bisa masuk Indonesia.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit mengakui, sifat konsumtif masyarakat turut membantu pertumbuhan bisnis waralaba. Terutama waralaba kuliner dan ritel atau mini market.

"Karena kan kalau urusan pakaian kita tidak harus membeli setiap saat. Tapi kalau urusan perut, itu seperti kewajiban. Sehari saja kita bisa makan lebih dari 3 kali," ujar Levita di JCC, yang dikutip dari Merdeka.com, Minggu (14/9/2014).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika Anda ingin terjun atau ikut serta dalam pengelolaan bisnis dengan konsep waralaba atau franchise. Merdeka.com merangkumnya, berikut paparannya.

1. Modal Ratusan Juta sampai Miliaran Rupiah

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit menyebutkan, nilai investasi bisnis waralaba kuliner mencapai Rp 3 miliar. Sementara untuk waralaba ritel relatif lebih rendah dari waralaba makanan.

Franchise Bisnis Development Manager Alfamart, Andriansyah menuturkan, tidak sulit untuk ikut serta dalam pengelolaan bisnis ritel Alfamart. Syarat utama, calon investor diharuskan menyiapkan lokasi untuk bakal calon toko Alfamart.

"Prinsipnya investor harus punya lokasi, nanti dari Alfamart yang akan survei," ungkap Andri saat di temui di pameran 'Franchise & License Expo Indonesia' di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/9/2014).

Setelah itu, jika pihak Alfamart setuju, dilanjutkan dengan mengajukan proposal keuangan. "Nanti di proposal itu akan diberitahukan nilai investasi dan akan balik modal berapa lama," ungkapnya.

Untuk nilai investasi sendiri, Alfamart mematok di angka Rp 400 juta. Nilai investasi itu sudah termasuk Franchise Fee, peralatan gerai dan AC, cash register dan sistemnya, shop sign and single pole, instalasi listrik, promosi dan persiapan pembukaan gerai serta perizinan.

2.Tak bisa ikut campur urusan manajemen

Semakin banyaknya ritel mini market tidak lepas dari konsep waralaba yang dijalankan. Salah satunya yang cukup akrab di telinga yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart. Namun, jika Anda ingin terjun ke bisnis ini, maka jangan harap ikut campur dalam urusan manajamen.

Termasuk soal rekrutmen pegawai. Franchise Bisnis Development Manager Alfamart, Andriansyah menuturkan, rekrutmen pegawai akan dilakukan langsung oleh pihak Alfamart. Calon tenaga kerja harus menjalani masa pelatihan satu pekan di dalam kelas dan sekitar 6 bulan di toko.

"Tapi kalau dari investor bisa mengajukan sendiri namun tetap yang kita training. Hak dan kewajiban pegawai mengikuti aturan kita," paparnya.

"Intinya investor hanya berinvestasi dan menerima untung. Untuk manajemennya kita yang urus," ucapnya.

3.Waralaba ritel untung kecil tapi tahan lama

Franchise Bisnis Development Manager Alfamart, Andriansyah menuturkan, soal keuntungan yang akan diterima investor, disebut-sebut hanya sebesar 3 hingga 4 persen. Diakuinya, nilai bagi hasil tersebut tidak terlalu besar.

"Keuntungan nanti kita transfer 3 hingga 4 persen. Pada prinsipnya bisnis mini market ini untungnya tidak terlalu besar namun mampu bertahan lama," ungkap Andri.

4.Waralaba kuliner janjikan keuntungan besar

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Levita Ginting Supit menyebutkan, semakin banyak pelaku usaha terjun ke bisnis kuliner, termasuk yang menggunakan konsep waralaba. Diakuinya, moncernya bisnis waralaba kuliner tidak lepas dari potensi keuntungan yang dijanjikan dari bisnis ini.

"Misalnya makanan, kita bicara restoran ya. Omzet satu tahun restoran yang menengah itu bisa mencapai Rp 5 miliar," paparnya.

Sedangkan untuk bisnis ritel atau mini market, Levita menyebut potensi omzet yang bisa didapat sekitar Rp 2,4 miliar saban tahun. "Kalau omzet per bulannya untuk retail itu bisa Rp 200 juta," tuturnya.

5.Butuh keberanian dan komitmen

Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, meski belum sebesar bisnis peluang usaha (bisnis opportunity), bisnis waralaba tetap tumbuh positif. AFI terus mendorong perkembangan bisnis ini.

"Berwirausaha memberikan kebebasan baik secara waktu maupun finansial. Namun perlu disadari bahwa dalam merintis usaha baru dibutuhkan keberanian, komitmen tinggi, waktu, tenaga, dan biaya."[Merdeka]




Share this article :

0 komentar:

Jurnalsulteng.com on Facebook

 
Developed by : Darmanto.com
Copyright © 2016. JURNAL SULTENG - Tristar Mediatama - All Rights Reserved
Template by Creating Website
Proudly powered by Blogger