![]() |
| Ilustrasi |
Luapan air sungai itu sebagian besar melanda rumah warga yang berada di pinggir sungai sejak sekitar pukul 13.00 WITA.
Air meluap karena Kota Palu dan Kabupaten Sigi diguyur hujan deras pada Selasa (20/5/2014) malam, selama sekitar lima jam.
Luapan air sungai menerjang permukiman warga yang berada di Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Ujuna, Kelurahan Nunu dan Kelurahan Lere.
Bahkan di pinggir sungai di Keluarahn Maesa, air Sungai Palu sudah mencapai bibir sungai.
"Saya takut kalau malam hujan lagi, air akan meluap," kata Ardi warga setempat.
Saat ini sejumlah warga masih mengangkat barang-barang berharga agar tidak terkena rendaman air.
Sejumlah hewan ternak juga telah dibawa ke tempat aman agar tidak terendam air.
Hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi karena masih mengamankan barang dan berharap air segera surut.
Banjir bandang di Kota Palu terjadi pada 2007 akibat meluapnya Sungai Palu. Banjir itu menerjan seribuan rumah namun tidak ada korban jiwa.
Selain derasnya hujan, meluapnya air juga diduga akibat pendangkalan Sungai Palu.
Sementara itu, bencana tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Sigi yang berjarak sekitar 65 kilometer dari Kota Palu.
Bencana itu merusak 10 rumah dan sebuah gereja tergenang lumpur.
Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geosfisi memperkirkan Kota Palu masih akan diguyur hujan dengan intensitas sedang.
Longsor di Sigi
Sebanyak 10 rumah warga rusak diterjang tanah longsor di dua desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (20/5/2014) malam.
Petugas Balai Taman Nasional Lore Lindu, Raymond di Sigi, Rabu, menyebutkan bencana tanah longsor itu menyebabkan tujuh rumah warga rusak di Desa Kamarora. Dua di antaranya rusak berat karena diterjang material longsor berupa lumpur dan kayu.
Sementara di Desa Kadidi, terdapat tiga rumah warga rusak dengan kondisi memprihatinkan karena diterjang lumpur bercambur batu dan kayu.
Sebuah gereja juga dilaporkan terkena dampak bencana longsor karena bangunan tersebut dimasuki beberapa gelondongan kayu dan lumpur.
Raymond mengatakan bencana itu tidak menimbulkan korban jiwa ataupun korban luka-luka.
Saat ini sejumlah warga mulai membersihkan material longsor dibantu aparat keamanan setempat.
Bencana tanah longsor itu juga menutup jalan poros Kulawi yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Palu.
Tanah longsor itu terjadi karena hujan deras yang mengguyur pada Selasa malam (20/5) selama sekitar lima jam.
Beberapa hari ini Kota Palu dan Kabupaten Sigi juga diguyur hujan.
Sejumlah daerah di Kabupaten Sigi tergolong sebagai daerah rawan bencana tanah longsor karena kondisi berbukit dengan hutan yang mulai gundul. Daerah itu adalah di Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Palolo.
Pada Desember 2011, bencana tanah longsor terjadi di Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, yang menewaskan enam orang serta sejumlah bangunan rusak berat.
Sejumlah daerah di Sulawesi Tengah juga rawan longsor terutama saat terjadi hujan, seperti di Jalur Kebun Kopi.
Longsor parah di jalur yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Tengah dan beberapa provinsi lainnya di Pulau Sulawesi itu terjadi pada 24 Januari 2014.
Longsor tersebut terjadi akibat hujan yang berlangsung hingga belasan jam dan membuat tanah dan bebatuan berjatuhan dari tebing.
Bencana longsor di Jalur Kebun Kopi tersebut juga menewaskan satu orang, melukai sejumlah orang, serta beberapa kendaraan dan rumah rusak.
Longsor di Jalur Kebun Kopi terjadi hampir setiap tahun terutama saat musim hujan karena jalan tersebut berada di lereng bukit yang kondisinya sudah mulai gundul. (Ant)





0 komentar:
Posting Komentar