![]() |
| Ilustrasi |
"Perekonomian Sulteng pada triwulan I-2014 hanya tumbuh 2,98 persen, turun tajam dibanding triwulan IV 2013 yang mencapai 6,28 persen dan triwulan I 2013 sebesar 10,71 persen," kata Pemimpin Bank Indonesia Perwakilan Sulteng, Purjoko.
Menurut Purjoko yang dilansir dari Antarasulteng, Rabu (21/5/2014), penurunan kinerja produksi dan ekspor tambang setelah kebijakan larangan ekspor minerba mentah, memburuknya kinerja subsektor perkebunan serta perlambatan kinerja keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, menjadi faktor utama penurunan tajam perekonomian pada triwulan laporan.
Menurut catatan BPS, ekspor nikel mentah selama ini memberi kontribusi sekitar 80 persen dari total penghasilan devisa setiap tahun, dan mulai 12 Januari 2014 Sulteng tidak menerima devisa lagi dari sektor pertambangan nikel tersebut.
Di sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh kelompok investasi, konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, dan kelompok konsumsi pemerintah dengan kontribusi masing-masing sebesar 5,92 persen, 4,57 persen dan 1,37 persen.
Sementara di sisi sektoral, katanya, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertanian, dan sektor jasa-jasa memiliki kontribusi terbesar dengan masing-masing sumbangan sebesar 1,49 persen, 1,48 persen dan 1,47 persen.
Untuk laju inflasi kota Palu pada akhir triwulan I-2014 mencapai 8,42 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,97 persen dan inflasi nasional 7,32 persen.
Secara bulanan, inflasi triwulan I-2014 mengalami puncak pada bulan Januari dengan tingkat inflasi sebesar 1,03 persen.
Pada bulan tersebut, curah hujan yang tinggi disertai banjir dan longsor di beberapa daerah di Sulawesi Tengah berimbas pada kurangnya pasokan beberapa komoditas pangan utama serta terganggunya proses distribusi dari sentra produksi ke pasar-pasar utama yang memberikan dampak cukup besar pada inflasi Kota Palu.
Purjoko memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sulteng pada triwulan II-2014 (April-Juni) diperkirakan tumbuh sebesar 4,04 sampai 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2014 sebesar 2,98 namun lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 10,87%.
Penurunan kinerja sektor pertambangan pascalarangan ekspor tambang dalam bentuk mentah berpengaruh besar pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah di triwulan II 2014.
Namun konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi yang disebabkan antara lain masa kampanye pemilihan presiden (Pilpres), mulai di realisasikannya berbagai proyek APBD dan APBN serta panen raya padi akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan pada Triwulan II.
Pada Triwulan II-2014 ini pula sektor pertanian diperkirakan meningkat seiring dengan masa panen raya di berbagai sentra produksi di Sulawesi Tengah.
Kinerja sektor jasa-jasa dan sektor bangunan diproyeksikan meningkat. Mulai meningkatnya realisasi proyek Pemda serta pembangunan smelter tambang nikel dan beberapa perusahaan besar di Banggai menjadi faktor utama naiknya kinerja kedua sektor ini.(Ant)





0 komentar:
Posting Komentar