![]() |
| Ilustrasi |
Jumlahnya terlalu minim dan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama sebulan.
Apalagi, kata Sofyan di Palu belum lama ini, sebagian anggota Satpol PP yang berstatus honorer itu telah berkeluarga dan memiliki anak.
"Sedangkan digaji saja masih tidak cukup, apalagi biasanya mereka tidak digaji. Honor Satpol PP sangat tidak manusiawi," kata Sofyan yang dilansir dari Antarasulteng, Rabu (21/5/2014).
Dia mengatakan, Pemerintah kota Palu harus memperhatikan kesejahteraan anggota Satpol PP yang sangat memprihatinkan.
“Ini sudah saya sampaikan saat rapat paripurna LKPJ Wali Kota lalu. Padahal saat paripurna kita tidak bisa menyangga, tapi saya tetap berkomentar karena cuma itu kesempatan bertemu dengan Wali Kota,” katanya.
Selain itu, katanya, Pemkot Palu harus mengambil resiko karena sebelumnya telah merekrut ribuan anggota Satpol PP untuk mengabdi, meskipun sebagai pegawai honorer.
“Sekitar 1.000 anggota yang direkrut, tapi ketika pengumuman K2 tidak ada anggota Satpol PP yang lolos biar satu. Ini adalah keluhan anggota Satpol PP yang masih berstatus honorer," kata Sofyan.
Kepala Satpol PP M. Ridwan K membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan sekitar 600 anggota Satpol PP yang berstatus honorer mengalami kenaikkan gaji.
"Sebelum saya menjabat honor mereka itu sebesar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu/bulan. Tapi sekarang sudah naik berkisar Rp150 ribu, Rp200 ribu bahkan ada yang Rp400 ribu perorang,” sebutnya.
Pembayaran gaji pegawai honorer yang bervariasi itu disesuaikan dengan daftar hadir, dan pembayarannyapun dilakukan setiap bulan.
"Honornya sesuai daftar hadir, karena tidak mungkin yang jarang hadir honornya disamaratakan,” katanya.
Menyangkut keluhan gaji pegawai honorer yang dinyatakan tidak manusiawi, Ridwan mengatakan itu merupakan hal yang wajar namun pihaknya tetap berusaha memberikan tunjangan kepada seluruh anggota Satpol PP tersebut.
"Itu mungkin keluhan dari anggota Satpol PP yang kurang puas dengan gajinya,” imbuhnya. (Ant)





0 komentar:
Posting Komentar