>
Headlines News :
Home » , » Tenun Donggala Belum Kantongi Hak Cipta

Tenun Donggala Belum Kantongi Hak Cipta

Written By Unknown on Sabtu, 13 September 2014 | 00.21.00

Proses pembuatan tenun Donggala. (Foto: Telukpalu.com)

Palu, Jurnalsulteng.com- Sekretaris Asosiasi Tenun Donggala, Sulawesi Tengah, Imam Basuki, mengatakan hingga kini tenun Donggala belum mengantongi hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual sehingga berpeluang dijiplak pihak lain.

"Bahkan sebagian bilang, sarung Donggala motifnya banyak dijual di Pasar Turi, Surabaya," kata dia yang dikutip Antara,  Jumat (12/9/2014).

Hak cipta tersebut penting karena hampir semua daerah memiliki tenun apalagi dengan berkembangnya alat tenun bukan mesin (ATBM) semakin gampang menjiplak tenun.

Meski tenun Donggala tercipta dari akar tradisi masyarakat lokal dan diakui dari sisi kebudayaan, akan tetapi hak cipta tetap penting sehingga tidak gampang ditiru pihak luar.

Ia khawatir jika permintaan pasar meningkat dan perajin tenun semakin menurun maka pengusaha bisa saja memasok barang dari luar.

"Ini yang harus kita antisipasi," katanya.

Menurut Imam, untuk produk tenun dari ATBM sangat banyak beredar di pasar, namun sebagai pembeda adalah motif dari kain tenun tersebut.

Untuk produksi tenun Donggala yang dihasilkan dari ATBM dibedakan atas motif bunganya atau bomba.

"Kalau variasinya sudah banyak. Makanya tidak heran kalau ada orang bilang sebagian motif tenun yang beredar di Palu sebagian sudah menggunakan motif Bali," katanya.

Namun untuk tenun asli Donggala yang dikenal dengan Buya Sabe (sarung sutera) sulit dijiplak karena proses pengerjaan, motifnya dan bahan bakunya masih kental dengan nilai-nilai tradisional.

"Cara pengerjaannya juga menggunakan alat tradisional (gedokan)," katanya.

Proses pengerjaannya pun butuh waktu lama. Untuk satu lembar sarung bisa dikerjakan sampai satu bulan dan mereka yang terlibat dalam pekerjaan ini umumnya orang tua.

"Harganya juga lebih mahal," katanya.

Imam yang juga pengusaha tenun Donggala itu mengatakan dari sisi permintaan kain tenun Donggala khususnya produk ATBM lumayan membaik tetapi jumlah perajin justru menurun.

Buktinya, dulu Imam Basuki memiliki sekitar 20 ATBM, namun belakangan ini tidak ada lagi karena perajin semakin sedikit yang berminat melirik kerajinan tersebut.

Hal inilah, kata dia, yang perlu diperhatikan pemerintah agar perajin terus bertambah sehingga kain tenun Donggala tetap eksis di tengah hebatnya gempuran industri tekstil pabrik.[Ant]

Baca juga: http://www.jurnalsulteng.com/2014/05/generasi-penenun-sarung-donggala-makin.html
Share this article :

0 komentar:

Jurnalsulteng.com on Facebook

 
Developed by : Darmanto.com
Copyright © 2016. JURNAL SULTENG - Tristar Mediatama - All Rights Reserved
Template by Creating Website
Proudly powered by Blogger