>
Headlines News :
Home » » Gawat, Setiap Warga Negara Kebagian Utang Rp11 Juta

Gawat, Setiap Warga Negara Kebagian Utang Rp11 Juta

Written By Unknown on Selasa, 30 September 2014 | 10.33.00

Uchok Sky Khadafi
Jakarta, Jurnalsulteng.com- Membengkaknya utang luar negeri sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Bahkan 2015, setiap warga negara diprediksi akan menanggung beban utang sebesar Rp 11 juta perorang. Hal ini disebabkan, dalam sepuluh tahun terakhir pemerintah lebih mengandal­kan utang luar negeri dalam menjalankan roda pemerintahan.

Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi meminta pe­merintahan baru yang dinahkodai Jo­kowi-JK harus berani meng­hen­tikan utang luar negeri. Jika tidak melakukan terobosan, maka pe­merintahan yang dipimpinnya bisa ambruk, karena dililit utang.

“Pada 2015, ada sebesar Rp 11 juta per kepala, utang yang di­tang­gung oleh warga Indonesia. Ban­dingkan dengan 2004 silam yang disebut bahwa hutang orang In­donesia per kepala itu sudah men­capai Rp 7 juta,” ungkap Uchok dalam diskusi ‘Implikasi Eko­nomi Politik Utang Rezim SBY Terhadap Rezim Jokowi Dan Anak Cucu Bangsa’’di Ja­karta, kemarin.

Dijelaskan Uchok yang dikutip dari Rakyat Merdeka Online, Selasa (30/9/2014), utang pe­me­rintahan SBY hingga 2014, su­dah mencapai Rp 2.532 triliun rupiah. Jauh lebih banyak dib­anding era Presiden Megawati Soekarnoputri yang pada 2004 mencapai 1.999 triliun Rupiah. “Jadi, selama pemerintahan SBY ini ada Rp 1.232 triliun utang luar negeri pemerintahannya yang diwariskan kepada pemerintahan baru Jokowi,” katanya.

Menurutnya, pembengkakan utang luar negeri itu terjadi lan­taran banyaknya calo anggaran atas nama Management fee yang membiarkan In­do­nesia berutang terus menerus ke luar negeri. “Se­bab, mereka mem­peroleh bagian dari utang itu,” ujarnya.

Padahal, kata Uchok, keuangan negara tidak perlu defisit, apa­bilan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) dila­ku­kan reformasi. Jika tidak ada tero­bosan yang signifikan, peme­rin­tahan Jokowi-JK akan meradang dan terus terjebak pada persoalan utang dengan segala turunannya.

“Harus berani dan harus ada terobosan. Jangan pula seperti se­lama ini, Indonesia berutang ke luar negeri, dan utang itu semua yang dijadikan anggaran mem­biayai program-program, lah lalu untuk apa ada pemerintahan ka­lau semua mengandalkan utang saja,” pungkasnya.

Koodinator Petisi 28, Haris Rusly Moti menyatakan, Pre­siden SBY harus bertang­gungj­a­wab atas besarnya utang luar ne­geri. Pasalnya, selama 10 tahun ini, SBY terus manambah utang luar negeri yang besarannya me­lebihi kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya.

Haris menyarankan, presiden terpilih Jokowi untuk meminta MPR untuk meminta pertang­gungjawaban SBY. “Mereka yang harus berinisiatif dengan me­­lakukan itu. Setelah tanggal 1 Oktober mendorong MPR me­min­ta pertanggungjawaban SBY,” katanya.

Menurutnya, pertang­gung­ja­waban SBY ini harus dilakukan se­bagai pembelajaran politik bang­sa ke depan. Pasalnya, dalam sistem negara yang tidak jelas di mana letak kepemimpinannya, apakah presidensial atau parle­men­ter ini, setelah 10 tahun masa jabatannya, SBY seakan bisa per­gi begitu saja.

“Presiden Indonesia ke depan harus berani mencontoh presiden Argentina Nestor Kirchner yang me­nolak membayar hutang luar negeri. Ke depan, Jokowi harus be­rani untuk memangkas utang luar negeri tanpa berhutang kem­bali,” pungkasnya.

Peneliti Asosiasi Ekonomi Po­litik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng menyatakan, ada tiga wa­risan utang yang ditinggalkan rezim SBY kepada rezim Jokowi. Per­tama, utang karena defisit per­dagangan, yang disebabkan sela­ma ini Indonesia mengan­dal­kan impor daripada ekspor. Ke­dua, defisit transaksi berjalan, yak­ni menunjukkan bahwa pe­me­rin­tah­an SBY lebih banyak me­nge­luarkan uang daripada me­masuk­kan uang ke negara. Ke­tiga, defisit APBN, yakni APBN yang dibiayai dari utang luar negeri.

“Untuk kebutuhan sehari-hari, yakni kebutuhan pokok Indonesia saja, pemerintahan mengimpor. Be­lum lagi, APBN habis hanya untuk belanja rutin pegawai dan birokrat,” katanya.

Jika dibiarkan terus, kata dia, presiden terpilih Jokowi tidak ada ubah­nya dengan rejim SBY yang se­lama 10 tahun terakhir. “Semo­ga ada terobosan dari Jokowi-JK,” ujarnya.[Rmol]


Gawat, Setiap Warga Negara Kebagian Utang Rp11 Juta

Jakarta, Jurnalsulteng.com- Membengkaknya utang luar negeri sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Bahkan 2015, setiap warga negara diprediksi akan menanggung beban utang sebesar Rp 11 juta perorang. Hal ini disebabkan, dalam sepuluh tahun terakhir pemerintah lebih mengandal­kan utang luar negeri dalam menjalankan roda pemerintahan. 

Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi meminta pe­merintahan baru yang dinahkodai Jo­kowi-JK harus berani meng­hen­tikan utang luar negeri. Jika tidak melakukan terobosan, maka pe­merintahan yang dipimpinnya bisa ambruk, karena dililit utang.

“Pada 2015, ada sebesar Rp 11 juta per kepala, utang yang di­tang­gung oleh warga Indonesia. Ban­dingkan dengan 2004 silam yang disebut bahwa hutang orang In­donesia per kepala itu sudah men­capai Rp 7 juta,” ungkap Uchok dalam diskusi ‘Implikasi Eko­nomi Politik Utang Rezim SBY Terhadap Rezim Jokowi Dan Anak Cucu Bangsa’’di Ja­karta, kemarin.

Dijelaskan Uchok yang dikutip dari Rakyat Merdeka Online, Selasa (30/9/2014), utang pe­me­rintahan SBY hingga 2014, su­dah mencapai Rp 2.532 triliun rupiah. Jauh lebih banyak dib­anding era Presiden Megawati Soekarnoputri yang pada 2004 mencapai 1.999 triliun Rupiah. “Jadi, selama pemerintahan SBY ini ada Rp 1.232 triliun utang luar negeri pemerintahannya yang diwariskan kepada pemerintahan baru Jokowi,” katanya.

Menurutnya, pembengkakan utang luar negeri itu terjadi lan­taran banyaknya calo anggaran atas nama Management fee yang membiarkan In­do­nesia berutang terus menerus ke luar negeri. “Se­bab, mereka mem­peroleh bagian dari utang itu,” ujarnya.

Padahal, kata Uchok, keuangan negara tidak perlu defisit, apa­bilan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) dila­ku­kan reformasi. Jika tidak ada tero­bosan yang signifikan, peme­rin­tahan Jokowi-JK akan meradang dan terus terjebak pada persoalan utang dengan segala turunannya. 

“Harus berani dan harus ada terobosan. Jangan pula seperti se­lama ini, Indonesia berutang ke luar negeri, dan utang itu semua yang dijadikan anggaran mem­biayai program-program, lah lalu untuk apa ada pemerintahan ka­lau semua mengandalkan utang saja,” pungkasnya.

Koodinator Petisi 28, Haris Rusly Moti menyatakan, Pre­siden SBY harus bertang­gungj­a­wab atas besarnya utang luar ne­geri. Pasalnya, selama 10 tahun ini, SBY terus manambah utang luar negeri yang besarannya me­lebihi kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya. 

Haris menyarankan, presiden terpilih Jokowi untuk meminta MPR untuk meminta pertang­gungjawaban SBY. “Mereka yang harus berinisiatif dengan me­­lakukan itu. Setelah tanggal 1 Oktober mendorong MPR me­min­ta pertanggungjawaban SBY,” katanya.

Menurutnya, pertang­gung­ja­waban SBY ini harus dilakukan se­bagai pembelajaran politik bang­sa ke depan. Pasalnya, dalam sistem negara yang tidak jelas di mana letak kepemimpinannya, apakah presidensial atau parle­men­ter ini, setelah 10 tahun masa jabatannya, SBY seakan bisa per­gi begitu saja.

“Presiden Indonesia ke depan harus berani mencontoh presiden Argentina Nestor Kirchner yang me­nolak membayar hutang luar negeri. Ke depan, Jokowi harus be­rani untuk memangkas utang luar negeri tanpa berhutang kem­bali,” pungkasnya. 

Peneliti Asosiasi Ekonomi Po­litik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng menyatakan, ada tiga wa­risan utang yang ditinggalkan rezim SBY kepada rezim Jokowi. Per­tama, utang karena defisit per­dagangan, yang disebabkan sela­ma ini Indonesia mengan­dal­kan impor daripada ekspor. Ke­dua, defisit transaksi berjalan, yak­ni menunjukkan bahwa pe­me­rin­tah­an SBY lebih banyak me­nge­luarkan uang daripada me­masuk­kan uang ke negara. Ke­tiga, defisit APBN, yakni APBN yang dibiayai dari utang luar negeri.

“Untuk kebutuhan sehari-hari, yakni kebutuhan pokok Indonesia saja, pemerintahan mengimpor. Be­lum lagi, APBN habis hanya untuk belanja rutin pegawai dan birokrat,” katanya.

Jika dibiarkan terus, kata dia, presiden terpilih Jokowi tidak ada ubah­nya dengan rejim SBY yang se­lama 10 tahun terakhir. “Semo­ga ada terobosan dari Jokowi-JK,” ujarnya.[Rmol]

Share this article :

0 komentar:

Jurnalsulteng.com on Facebook

 
Developed by : Darmanto.com
Copyright © 2016. JURNAL SULTENG - Tristar Mediatama - All Rights Reserved
Template by Creating Website
Proudly powered by Blogger