Jakarta, Jurnalsulteng.com - Ekonom Universitas Gadjah Mada Toni Prasetiantono menganjurkan agar Bank Indonesia menaikkan Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 6,75 persen atau 7 persen. Dengan inflasi tahunan 8,61 persen, Toni mengatakan BI Rate 6,5 persen saat ini tak bisa mencegah para pemilik dana mengalihkan dananya ke Dolar Amerika Serikat.
"Di bank-bank umum, kini sudah lazim nasabah berdana besar minta suku bunga deposito 8 persen hingga 8,5 persen. Jika bank tidak menurutinya, likuiditas akan berkurang. Sehingga saya usul BI Rate perlu dinaikkan ke 6,75 persen atau 7 persen," kata Toni dalam pesan singkatnya yang dilansir Tempo.co, Kamis (22/8/2013).
Toni mengakui ada risiko perlambatan pertumbuhan kredit akibat kenaikan suku bunga ini. Dengan tingkat BI rate tersebut, pertumbuhan kredit diperkirakan melambat menjadi 19 persen hingga 20 persen.
"Pertumbuhan ekonomi juga akan melambat ke 5,8 persen atau 5.9 persen. Ini skenario yang logis untuk saat ini," kata Toni.
Ketidakpastian stimulus ekonomi di Amerika Serikat menyebabkan para investor mengalihkan aset mereka baik berupa surat berharga maupun saham ke Dolar Amerika Serikat. Akibatnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah melemah.
Toni mengatakan pelemahan nilai tukar juga diperburuk oleh defisit neraca perdagangan yang terus terjadi. Akibatnya, cadangan devisa terkuras dan gerak Bank Indonesia untuk melakukan intervensi nilai tukar menjadi terbatas. Kurs tengah Bank Indonesia mencatat pada Rabu, 21 Agustus 2013 kurs telah menyentuh Rp 10.723 per dolar Amerika Serikat.***
sumber:tempo.co
"Di bank-bank umum, kini sudah lazim nasabah berdana besar minta suku bunga deposito 8 persen hingga 8,5 persen. Jika bank tidak menurutinya, likuiditas akan berkurang. Sehingga saya usul BI Rate perlu dinaikkan ke 6,75 persen atau 7 persen," kata Toni dalam pesan singkatnya yang dilansir Tempo.co, Kamis (22/8/2013).
Toni mengakui ada risiko perlambatan pertumbuhan kredit akibat kenaikan suku bunga ini. Dengan tingkat BI rate tersebut, pertumbuhan kredit diperkirakan melambat menjadi 19 persen hingga 20 persen.
"Pertumbuhan ekonomi juga akan melambat ke 5,8 persen atau 5.9 persen. Ini skenario yang logis untuk saat ini," kata Toni.
Ketidakpastian stimulus ekonomi di Amerika Serikat menyebabkan para investor mengalihkan aset mereka baik berupa surat berharga maupun saham ke Dolar Amerika Serikat. Akibatnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah melemah.
Toni mengatakan pelemahan nilai tukar juga diperburuk oleh defisit neraca perdagangan yang terus terjadi. Akibatnya, cadangan devisa terkuras dan gerak Bank Indonesia untuk melakukan intervensi nilai tukar menjadi terbatas. Kurs tengah Bank Indonesia mencatat pada Rabu, 21 Agustus 2013 kurs telah menyentuh Rp 10.723 per dolar Amerika Serikat.***
sumber:tempo.co





0 komentar:
Posting Komentar